Keywords / Kata Kunci:

Senin, 13 Oktober 2008

MATERI TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PERTEMUAN IV
KEPUTUSAN DALAM SUASANA RISK ( DENGAN PROBABILITA )

Tahap-tahap:
Diawali dengan mengidentifikasikan bermacam-macam tindakan yang tersedia dan layak
Peristiwa-peristiwa yang mungkin dan probabilitas terjadinya harus dapat diduga
Pay off untuk suatu tindakan dan peristiwa tertentu ditentukan

Teknik yang digunakan:
Expected Value (Nilai Ekspektasi)
Expected Opportunity Loss ( EOL )
Untuk meminimumkan kerugian yang disebabkan karena pemilihan alternatif keputusan tertentu. Keputusan yang direkomendasikan criteria expected value dan expected opportunity loss adalah sama, dan ini bukan suatu kebetulan karena kedua metode ini selalu memberikan hasil yang sama, sehingga cukup salah satu yang dipakai, tergantung tujuannya. Hanya criteria ini sangat tergantung pada perkiraan probabilita yang akurat.

Expected Value of Perfect Information (EVPI)
Merupakan perluasan dari criteria EV dan EOL, atau dengan kata lain informasi yang didapat pengambil keputusan dapat mengubah suasana risk menjadi certainty (membeli tambahan informasi untuk membantu pembuat keputusan). EVPI sama dengan EOL minimum (terbaik), karena EOL mengukur selisih EV terbaik keputusan dalam suasana risk dan certainty.


PERTEMUAN III
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
3.1 PENGERTIAN MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Model adalah percontohan yang mengandung unsur yang bersifat penyederhanaan untuk dpt ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan proses berurutan yang memerlukan penggunaan model secara tepat dan benar.
Pentingnya model dalam pengambilan keputusan:
Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap maslah yang akan dipecahkan/diselesaikan itu.
Untuk memperjelas (secara ekplisit) mengenai hubungan signifikan di antara unsur-unsur tersebut.
Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan anatara variabel. Hubungan ini dalam bentuk matematika
Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.

3.2 KLASIFIKASI MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tujuannya: model latihan, model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan model lainnya.
Bidang penerapan(field of application): model tentang transportasi, persediaan barang, pendidikan, keshatan dsb.
Tingkatatan (level): model tingkat manajemen kantor, tingkat kebijakan nasional, kebijakan regional, kebijakan lokal dsb.
Ciri waktunya (time character): model statis dan model dinamis.
Bentuknya (form): model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik, model non konflik, dsb
Pengembangan analitik: tingkat dimana matematika perlu digunakan
Konpleksitas: model sangat terinci, model sederhana, model global, model keseluruhan dll
Formalisasi: model mengenai dimana interaksi itu telah direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu dibicarakan.
Quade membedakan model dalam dua type:
Model quantitatif: serangkaian asumsi yang tepat yg dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yg pasti.
Model kualitatif: didasarkan pd asumsi-asumsi yg ketapatannya kurang jika dibandingkan dengan kuantitatif.

Gullet dan Hicks memberikan klasifikasi model sbb:
Model probabilitas
Konsep ttg nila-nilai harapan
Model matriks
Model pohon keputusan
Kurva Indiferen
Model simulasi komputer

Robert D Spech mengelompokan model sbb:
Model matematika
Model komputer
Model permainan operasional
Model verbal
Model fisik


PERTEMUAN II
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

2.1. Pengertian proses pengambilan keputusan; merupakan tahap-tahap yang harus dilakukan guna untuk membuat keputusan.
2.2 Proses pengambilan keputusan keputusan
A. Penemuan masalah; merupakan tahap dimana harus didefinisikan dengan jelas sehingga perbedaan antara masalah dan bukan masalah (issu) menjadi jelas.

B. Pemecahan masalah; merupakan tahap dimana masalah yang sudah ada kemudian diselesaikan dengan langkah-langkah sbb:
1. Identifikasi alternatif-alternatif keputusan untuk memecahkan maslaha
2. Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau diluar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa yang akan datang
3. Pembuatan alat ung mengevaluasi atau mengukur hasil.
4. Pemilihan dan penggunanaan model pengambilan keputusan.

C. Pengambilan keputusan ; berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada, spt kondisi pasti, berisiko, kondisi tidak pasti, dan konflik.

Pendapat mengenai proses pengambilan keputusan:
Herbert A. Simon
Fase intelegensia; merupakan fase penelusuran infomasi untuk keadaan yang memungkinkan dalam rangka pengambilan keputusan (pengamatan lingkungan).
Fase desain; fase pencarian, pengembangan serta analisa kemungkinan tindakan :
a. Identifikasi masalah
b. Formulasi masalah
3. Fase pemilihan; fase seleksi alternatif yang dilakukan dari alternatif tersebut. Alternatif yang dipilih kemudian diputuskan dan dilaksanakan.

b. Ricahrad I. Levin, dkk
Observasi;
Analisa dan pengenalan masalah
Pengembangan model
Memilih data masukan yang sesuai
Perumusan dan pengetesan yang dapat dipertanggungjawabkan
Penerapan pemecahan.
c. Sir Francis Bacon
Merumuskan/identifikasi masalah
Mengumpulkan informasi yang relevan.
Mencari alternatif tindakan
Analisis alternatif
Memilih alternatif terbaik
Melaksanakan keputusan dan evaluasi hasil


PERTEMUAN I 12 Oktober 2008
PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.Pengertian Keputusan
1.Menurut Ralp C. Davis; Hasil pemecahan masalah yg dihadapinya dengan tegas.
2.Menurut Mary Follet; adalah sesuatu atau sebagai hukum situasi.
3.Menurut James A.F.Stoner; adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif.
4.Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH; suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
Kesimpulan bahwa keputusan merupakan pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan suatu alternatif dari beberapa alternatif.

B. Pengertian Pengambilan Keputusan
1.Menurut George R. Terry; adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada)
2.Menurut S.P Siaigan; suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
3.Menurut James A.F. Stoner; proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Kesimpulan; pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan sebagai suatu cara pemecahan masalah)
C. Pengertian Teori Pengambilan Keputusan
Adalah teori-teori atau teknik-teknik atau pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam suatu proses pengambilan keputusan.

1.2 Fungsi Dan Tujuan Pengambilan Keputusan
A.Fungsi Pengambilan Keputusan
1.Pangkal permulaan dari semua aktifitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional.
2.Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
B. Tujuan Pengambilan Keputusan
1.Tujuan yang bersifat tunggal; yaitu terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.
2.Tujuan yang bersifat ganda; yaitu apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif.

1.3 Unsur-Unsur Pengambilan Keputusan
1.Tujuan dari pengambilan keputusan.
2. Identifikasi alternatif-alternatif keputusan untuk memecahkan masalah.
3.Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya/diluar jangkauan manusia.
4.Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan.
1.4 Dasar-dasar penggambilan keputusan
Menurut George R. Terry
1.Intuisi; memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh
2.Pengalaman; memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung rugi, baik buruknya keputusan yang akan diambil.

3.Fakta; dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang akan menerima keputusan yang dibuat dengan rela dan lapang dada.
4.Wewenang; biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya terhadap orang yang rendah kedudukannya.
5.Rasional; keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.
1.5 Faktor yang mempengaruhi keputusan.
1.Posisi/Kedudukan
2.Masalah
3.Situasi
4.Kondisi
5.Tujuan

Faktor-faktor lain:
1.Keadaan Intern organisasi
2.Keadaan Ekternal organisasi
3.Tersediannya Informasi yang diperlukan
4.Kepribadian dan kecakapan pengambilan keputusan.
1.6 Jenis-jenis pengambilan keputusan
A.Berdasarkan Progra; Keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram
B.Berdasarkan Lingkungan:
1.Keputusan dalam kondisi pasti
2.Keputusan dalam kondisi berisiko
3.Keputusan dalam kondisi tidak pasti
4.Keputusan dalam kondisi konflik






1 komentar:

Anonim mengatakan...

sering terjadi permasalahan atau konflik di sekeliling kita maka sebuah pengambilan keputusan adalah jalan untuk menyelesakan permasalahaan tersebut, sama hal nya didalam sebuah perusahaan dimana seorang pemimpin harus menentukan sebuah sikap yang dapat di terima oleh seluruh karyawan di perusahaan tersebut dlm menentukan sebuah keputusan . faktor- faktor lainnya dari sebuah pengambilan keputusan adalah konflik internal atau masalah yang datang dari luar serta informasi yang masuk yang dapat merugikan perusahaan maka disinilah seorang pemimpin perusaahaan itu membuat sebuah keputusan agar konflik atau masalah yang terjadi tidak semakin besar. saya pernah mendengar bahwasannya seorang manajer yang propesional harus membuat keputusan dalam waktu tujuh menit saat menyikapi sebuah masalah.
dari ahmad syafi'i
smester 7